Minggu, 26 Agustus 2012

Cinta Bukanlah Disalurkan Lewat Pacaran

Cinta kepada lain jenis merupakan hal yang fitrah bagi manusia. Karena sebab cintalah, keberlangsungan hidup manusia bisa terjaga. Oleh sebab itu, Allah Ta’ala menjadikan wanita sebagai perhiasan dunia dan kenikmatan bagi penghuni surga. Islam sebagai agama yang sempurna juga telah mengatur bagaimana menyalurkan fitrah cinta tersebut dalam syariatnya yang rahmatan lil ‘alamin. Namun, bagaimanakah jika cinta itu disalurkan melalui cara yang tidak syar`i? Fenomena itulah yang melanda hampir sebagian besar anak muda saat ini. Penyaluran cinta ala mereka biasa disebut dengan pacaran. Berikut adalah beberapa tinjauan syari’at Islam mengenai pacaran.
Ajaran Islam Melarang Mendekati Zina
Courtship 300x300 Importance of Courtship in Building RelationshipsAllah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’ [17]: 32)
Dalam Tafsir Jalalain dikatakan bahwa larangan dalam ayat ini lebih keras daripada perkataan ‘Janganlah melakukannya’. Artinya bahwa jika kita mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sampai melakukan zina, jelas-jelas lebih terlarang. Asy Syaukani dalam Fathul Qodir mengatakan, ”Apabila perantara kepada sesuatu saja dilarang, tentu saja tujuannya juga haram dilihat dari maksud pembicaraan.”
Dilihat dari perkataan Asy Syaukani ini, maka kita dapat simpulkan bahwa setiap jalan (perantara) menuju zina adalah suatu yang terlarang. Ini berarti memandang, berjabat tangan, berduaan dan bentuk perbuatan lain yang dilakukan dengan lawan jenis karena hal itu sebagai perantara kepada zina adalah suatu hal yang terlarang.
Islam Memerintahkan untuk Menundukkan Pandangan
Allah memerintahkan kaum muslimin untuk menundukkan pandangan ketika melihat lawan jenis. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah kepada laki–laki yang beriman : ”Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An Nuur [24]: 30 )
Dalam lanjutan ayat ini, Allah juga berfirman, “Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan kemaluannya” (QS. An Nuur [24]: 31)
Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat pertama di atas mengatakan, ”Ayat ini merupakan perintah Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yang beriman untuk menundukkan pandangan mereka dari hal-hal yang haram. Janganlah mereka melihat kecuali pada apa yang dihalalkan bagi mereka untuk dilihat (yaitu pada istri dan mahromnya). Hendaklah mereka juga menundukkan pandangan dari hal-hal yang haram. Jika memang mereka tiba-tiba melihat sesuatu yang haram itu dengan tidak sengaja, maka hendaklah mereka memalingkan pandangannya dengan segera.”
Ketika menafsirkan ayat kedua di atas, Ibnu Katsir juga mengatakan, ”Firman Allah (yang artinya) ‘katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka’ yaitu hendaklah mereka menundukkannya dari apa yang Allah haramkan dengan melihat kepada orang lain selain suaminya. Oleh karena itu, mayoritas ulama berpendapat bahwa tidak boleh seorang wanita melihat laki-laki lain (selain suami atau mahromnya, pen) baik dengan syahwat dan tanpa syahwat. … Sebagian ulama lainnya berpendapat tentang bolehnya melihat laki-laki lain dengan tanpa syahwat.”
Lalu bagaimana jika kita tidak sengaja memandang lawan jenis?
Dari Jarir bin Abdillah, beliau mengatakan, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang cuma selintas (tidak sengaja). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku agar aku segera memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim no. 5770)
Faedah dari menundukkan pandangan, sebagaimana difirmankan Allah dalam surat An Nur ayat 30 (yang artinya) “yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka” yaitu dengan menundukkan pandangan akan lebih membersihkan hati dan lebih menjaga agama orang-orang yang beriman. Inilah yang dikatakan oleh Ibnu Katsir –semoga Allah merahmati beliau- ketika menafsirkan ayat ini. –Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk menundukkan pandangan sehingga hati dan agama kita selalu terjaga kesuciannya-
Agama Islam Melarang Berduaan dengan Lawan Jenis
Dari Ibnu Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahromnya.” (HR. Bukhari, no. 5233)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya.” (HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shohih ligoirihi)
Jabat Tangan dengan Lawan Jenis Termasuk yang Dilarang
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)
Jika kita melihat pada hadits di atas, menyentuh lawan jenis -yang bukan istri atau mahrom- diistilahkan dengan berzina. Hal ini berarti menyentuh lawan jenis adalah perbuatan yang haram karena berdasarkan kaedah ushul “apabila sesuatu dinamakan dengan sesuatu lain yang haram, maka menunjukkan bahwa perbuatan tersebut adalah haram”. (Lihat Taysir Ilmi Ushul Fiqh, Abdullah bin Yusuf Al Juda’i)
Meninjau Fenomena Pacaran
Setelah pemaparan kami di atas, jika kita meninjau fenomena pacaran saat ini pasti ada perbuatan-perbuatan yang dilarang di atas. Kita dapat melihat bahwa bentuk pacaran bisa mendekati zina. Semula diawali dengan pandangan mata terlebih dahulu. Lalu pandangan itu mengendap di hati. Kemudian timbul hasrat untuk jalan berdua. Lalu berani berdua-duan di tempat yang sepi. Setelah itu bersentuhan dengan pasangan. Lalu dilanjutkan dengan ciuman. Akhirnya, sebagai pembuktian cinta dibuktikan dengan berzina. –Naudzu billahi min dzalik-. Lalu pintu mana lagi paling lebar dan paling dekat dengan ruang perzinaan melebihi pintu pacaran?!
Mungkinkah ada pacaran Islami? Sungguh, pacaran yang dilakukan saat ini bahkan yang dilabeli dengan ’pacaran Islami’ tidak mungkin bisa terhindar dari larangan-larangan di atas. Renungkanlah hal ini!
Mustahil Ada Pacaran Islami
Salah seorang dai terkemuka pernah ditanya, ”Ngomong-ngomong, dulu bapak dengan ibu, maksudnya sebelum nikah, apa sempat berpacaran?”
Dengan diplomatis, si dai menjawab,”Pacaran seperti apa dulu? Kami dulu juga berpacaran, tapi berpacaran secara Islami. Lho, gimana caranya? Kami juga sering berjalan-jalan ke tempat rekreasi, tapi tak pernah ngumpet berduaan. Kami juga gak pernah melakukan yang enggak-enggak, ciuman, pelukan, apalagi –wal ‘iyyadzubillah- berzina.
Nuansa berpikir seperti itu, tampaknya bukan hanya milik si dai. Banyak kalangan kaum muslimin yang masih berpandangan, bahwa pacaran itu sah-sah saja, asalkan tetap menjaga diri masing-masing. Ungkapan itu ibarat kalimat, “Mandi boleh, asal jangan basah.” Ungkapan yang hakikatnya tidak berwujud. Karena berpacaran itu sendiri, dalam makna apapun yang dipahami orang-orang sekarang ini, tidaklah dibenarkan dalam Islam. Kecuali kalau sekedar melakukan nadzar (melihat calon istri sebelum dinikahi, dengan didampingi mahramnya), itu dianggap sebagai pacaran. Atau setidaknya, diistilahkan demikian. Namun itu sungguh merupakan perancuan istilah. Istilah pacaran sudah kadong dipahami sebagai hubungan lebih intim antara sepasang kekasih, yang diaplikasikan dengan jalan bareng, jalan-jalan, saling berkirim surat, ber SMS ria, dan berbagai hal lain, yang jelas-jelas disisipi oleh banyak hal-hal haram, seperti pandangan haram, bayangan haram, dan banyak hal-hal lain yang bertentangan dengan syariat. Bila kemudian ada istilah pacaran yang Islami, sama halnya dengan memaksakan adanya istilah, meneggak minuman keras yang Islami. Mungkin, karena minuman keras itu di tenggak di dalam masjid. Atau zina yang Islami, judi yang Islami, dan sejenisnya. Kalaupun ada aktivitas tertentu yang halal, kemudian di labeli nama-nama perbuatan haram tersebut, jelas terlalu dipaksakan, dan sama sekali tidak bermanfaat.
Pacaran Terbaik adalah Setelah Nikah
Islam yang sempurna telah mengatur hubungan dengan lawan jenis. Hubungan ini telah diatur dalam syariat suci yaitu pernikahan. Pernikahan yang benar dalam Islam juga bukanlah yang diawali dengan pacaran, tapi dengan mengenal karakter calon pasangan tanpa melanggar syariat. Melalui pernikahan inilah akan dirasakan percintaan yang hakiki dan berbeda dengan pacaran yang cintanya hanya cinta bualan.
Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.” (HR. Ibnu Majah no. 1920. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)
Kalau belum mampu menikah, tahanlah diri dengan berpuasa. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagaikan kebiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnul Qayyim berkata, ”Hubungan intim tanpa pernikahan adalah haram dan merusak cinta, malah cinta di antara keduanya akan berakhir dengan sikap saling membenci dan bermusuhan, karena bila keduanya telah merasakan kelezatan dan cita rasa cinta, tidak bisa tidak akan timbul keinginan lain yang belum diperolehnya.”
Cinta sejati akan ditemui dalam pernikahan yang dilandasi oleh rasa cinta pada-Nya. Mudah-mudahan Allah memudahkan kita semua untuk menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Allahumma inna nas’aluka ’ilman nafi’a wa rizqon thoyyiban wa ’amalan mutaqobbbalan.

At Tauhid edisi V/17  
Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Senin, 20 Agustus 2012

Faidah surah Al Ashr

وَالْعَصْرِ
“Demi al ashr
Huruf wau dalam ayat ini disebut dengan wau qasam, yang dalam bahasa arab digunakan untuk bersumpah. Maka ayat pertama ini termasuk bentuk kalimat sumpah atau qasam. Dalam ayat ini Allah Ta’ala bersumpah dengan salah satu makhluk-Nya yaitu al ashr. Imam Al Qurthubi menjelaskan dalam tafsirnya bahwa ada tiga pendapat ulama dalam menafsirkan makna al ashr:
  1. Artinya waktu/masa. Ini merupakan pendapat Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhu. Dan maksud ayat ini adalah Allah bersumpah dalam rangka mengingatkan tentang berjalannya serta silih bergantinya waktu, yang dengan sendirinya menunjukkan kekuasan dari Sang Maha Pencipta.
  2. Artinya siang dan malam.
  3. Artinya sore, yaitu sejak matahari melenceng hingga terbenamnya. Ini adalah pendapat Qatadah dan Al Hasan Al Bashri.
  4. Artinya shalat ashar. Allah bersumpah dengannya karena keutamaan shalat ashar, atau dalam rangka mensyariatkan shalat ashar.
  5. Artinya zaman Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Allah bersumpah dengannya karena keutamaan zaman beliau, dengan diutusnya beliau.
  6. Maksud dari al ashr adalah rabbul ashr, yaitu Allah Ta’ala.
(Diringkas dari Tafsir Al Qurthubi, 20/178-179)
Yang tepat adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Ath Thabari: “Pendapat yang benar dalam masalah ini adalah memaknai bahwa di sini Allah bersumpah dengan al ashr, yaitu waktu secara umum, juga waktu sore, juga siang dan malam, dan tidak mengkhususkannya dalam satu makna khusus dan membuang makna yang lain. Setiap makna yang dari kata al ashr tercakup dalam sumpah Allah tersebut.” (Tafsir Ath Thabari, 24/589)
Dari ayat ini kita bisa mengambil beberapa faidah:
  1. Bentuk sumpah atau qasam dari Allah menunjukkan seriusnya atau menyatakan benarnya hal yang disumpahkan (Lihat Al Itqan karya As Suyuthi, 4/53). Dalam surat ini,  Allah Ta’ala bersumpah untuk menegaskan bahwa manusia itu benar-benar berada dalam khusr.
  2. Allah Ta’ala terkadang bersumpah dengan sebagian makhluk-Nya untuk menunjukkan bahwa Ia lah Sang Pencipta (Lihat Al Itqan, 4/55). Maka, waktu, siang-malam, sore, semua itu adalah makhluk Allah. Allah jua lah yang mengendalikan pergantian dari waktu dan seiring dengan itu terjadilah perubahan-perubahan keadaan. Tak ada dzat selain Allah yang bisa menciptakan waktu atau mengendalikannya. Sungguh ini merupakan kebesaran Allah bagi orang yang mau merenungkan.
  3. Allah Ta’ala bersumpah dengan sebagian makhluk-Nya untuk menunjukkan bahwa makhluk tersebut adalah salah satu makhluk yang agung sebagai tanda kebesaran Allah dan terkadang menunjukkan manfaat serta keutamaan makhluk tersebut (Lihat Al Itqan, 4/55-57). Maka, waktu adalah makhluk Allah yang agung. Betapa berharganya waktu hingga perbuatan baik sedetik saja akan memberikan kebaikan di akhirat dan perbuatan buruk sedetik saja akan menambah kesengsaraan di akhirat. Oleh karena itu, Islam membimbing umatnya untuk memanfaatkan waktu dengan baik, Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam bersabda: “Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah (dalam hal itu) serta jangan malas.” (HR. Muslim no. 2664)
إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian
Jika ayat yang pertama tadi adalah kalimat qasam, ayat kedua ini adalah jawabul qasam. Yaitu pokok pikiran dari sumpah yang dilakukan. Dalam ayat ini jelas, Allah Ta’ala bersumpah untuk menegaskan bahwa manusia itu benar-benar berada dalam khusr. Imam Qurthubi menjelaskan lagi perbedaan para ulama dalam memaknai khusr:
  1. Artinya kekafiran. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas, dari riwayat Abu Shalih.
  2. Artinya kelompok orang-orang musyrik. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas, dari riwayat Ad Dhahhak.
  3. Artinya kelalaian atau ketertipuan.
  4. Artinya kebinasaan. Ini adalah pendapat Al Akhfasy.
  5. Artinya akibat yang buruk. Ini adalah pendapat Al Farra’.
  6. Artinya keburukan. Ini adalah pendapat Ibnu Zaid.
  7. Artinya kekurangan atau ketidak-sempurnaan.
(Diringkas dari Tafsir Al Qurthubi, 20/180)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin memiliki penjelasan bagus mengenai ayat ini: “Makna ayat ini adalah Allah Ta’ala bersumpah tentang keaadaan manusia bahwasanya mereka dalam kerugian, yaitu mereka senantiasa berada dalam 2 kerugian, kerugian dunia dan akhirat, kecuali orang-orang yang diperkecualikan oleh Allah. Dan kalimat dalam ayat ini menggunakan tiga buah penegas: pertama, adanya huruf qasam (yaitu wau), kedua, huruf inna (ان), ketiga, huruf lam (اللام). Selain itu Allah Ta’ala juga menggunakan kata لفي خسر ini lebih tegas daripada kata لخاسر karena huruf fii (في ) yang merupakan zharf disitu memberi makna bahwa seakan-akan seluruh manusia tenggelam dalam kerugian, dan kerugian itu benar-benar meliputi mereka dari segala sisi” (Tafsir Juz Amma, 1/308)
Kemudian simak faidah indah dari Imam Fakhrurrazi berikut ini: “Ketahuilah bahwa ayat ini seolah sebuah peringatan bahwa keadaan asal manusia itu berada dalam kerugian dan kekalahan. Ayat ini juga mengikrarkan bahwa kebahagiaan sejati itu ada dalam kecintaan pada akhirat dan berpaling dari dunia. Kemudian, sebab-sebab yang mengajak pada cinta akhirat itu samar, sedangkan yang mengajak pada cinta dunia itu sangat nampak, yaitu segala panca-indera, syahwat dan emosi. Oleh karena itulah, sebagian besar manusia tenggelam dalam cinta dunia dan senantiasa mencarinya. Sehingga mereka pun berada dalam kerugian” (Mafatihul Ghaib, 32/280)

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, serta saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di menjelaskan, bahwa yang dikecualikan dari kerugian oleh Allah adalah orang-orang yang memiliki 4 sifat:
  1. Beriman apa-apa yang diperintah Allah, sebagai konsekuensi iman kepada Allah. Dan iman tidak mungkin tanpa ilmu, karena ilmu adalah bagian dari iman yang tidak mungkin iman bisa sempurna tanpanya
  2. Beramal shalih. Ini mencakup semua amalan shalih, baik amalan batih maupun amalan zhahir, baik yang berkaitan dengan hak Allah, maupun hak hamba, baik yang wajib maupun yang sunnah.
  3. Saling menasehati dalam al haq, yaitu iman dan amalan shalih. Saling menasehati satu dengan yang lain untuk beriman dan beramal shalih, saling mendorong dan menyemangati kepada hal itu.
  4. Saling menasehati untuk bersabar dalam ketaatan, dalam menjauhi maksiat serta dalam menghadapi takdir yang buruk.
Beliau lalu melanjutkan: “Dua poin pertama, dalam rangka menyempurnakan diri sendiri. Sedangkan dua poin kedua, dalam rangka menyempurnakan orang lain. Dengan dijalankannya empat hal ini maka manusia akan selamat dari kerugian menuju kemenangan dan keberuntungan” (Taisir Karimirrahman, 1/934).
Demikianlah seorang muslim, menginginkan kebaikan pada dirinya, juga menginginkan kebaikan yang sama pada orang lain. Selain berusaha untuk meningkatkan iman dan menyibukkan diri dengan amalan shalih demi kebaikan dirinya, seorang muslim juga menasehati muslim yang lain untuk demikian.
Tidak sebagaimana sikap sebagian orang yang enggan menasehati dan enggan dinasehati. Ketika dinasehati mereka pun berkata ‘jangan campuri urusanku, biarlah untukku amalku, untukmu amalmu‘. Sikap angkuh demikian bukanlah akhlak yang mulia dan bertentangan dengan wasiat Allah dan Rasul-Nya dalam surat Al Ashr ini. Namun begitulah memang dinamika dalam memberi nasehat, akan senantiasa menemui rintangan, keangkuhan dan penentangan. Oleh karena itu lah ciri orang yang tidak merugi adalah yang bisa bersabar dalam menghadapi itu semua. Imam Ibnu Katsir menjelaskan: “Allah mengecualikan dari manusia yang merugi tersebut yaitu orang-orang beriman sepenuh hati mereka, serta beramal shalih dengan anggota badan mereka, serta saling menasehati dalam kebenaran, yaitu menunaikan ketaatan dan meninggalkan segala yang haram, serta saling menasehati dalam kesabaran, yaitu ketika menghadapi musibah, takdir yang buruk dan gangguan dari orang-orang yang suka menyakiti para penyeru kebaikan dan pencegah kemungkaran” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/480).
Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat, wabillahi at taufiq was sadaad.


sumber :
At Tauhid edisi VIII/16
Oleh: Tim Penulis Buletin At Tauhid

Jumat, 03 Agustus 2012

Tips Perawatan Cantik Alami

Sudah dari zaman nenek moyang, bahan-bahan alam yang ada di sekitar kita, dapat menyempurnakan kecantikan tubuh dari rambut sampai ujung kuku kaki. Selain murah, bahan-bahannya juga gampang didapat.

Kunyit untuk Tangan  

Polusi dan sinar matahari membuat kulit kusam. Cara mengakalinya dengan lulur kunyit yang bisa mencerahkan kulit. Untuk membuatnya, parutlah kunyit lalu campur air dan endapkan selama beberapa menit. Setelah itu, campurkan dengan tepung beras dan oleskan ke kulit.







Madu untuk Kaki

Siapa yang tidak tergiur memiliki kaki berkilau nan lembut? Madu yang dikenal punya banyak khasiat, bisa mewujudkan semua ini. Oleskan madu murni ke kulit, lalu tepuk-tepuk sampai mengering. Kemudian, basuh dan dapatkan kulit lembap, lembut, dan berkilau.








Kemiri untuk Rambut

Sudah bukan rahasia, kalau kemiri bisa menyulap rambut lebih kuat dan subur sekaigus menghitamkan. Caranya mudah, tumbuk enam biji kemiri hingga halus lalu sangrai dengan sedikit air hingga berminyak. Sete;ah itu gosokkan minyak kemiri tersebut ke kulit kepala sambil dipijat.




Kayu Manis untuk Wajah

Meskipun kecil, jerawat mengganggu penampilan. Pergunakanlah kayu manis untuk menepisnya! Campurkan satu sendok teh bubuk kayu manis dengan tiga sendok makan madu. Oleskan ramuan ini di jerawat sebelum tidur, lalu, basuh dengan air hangat ketika bangun tidur. Jangan takut dengan sensasi panas yang ditimbulkan kayu manis.Jjika rutin melakukan ini, bukan mustahil kulit wajah bisa cling kembali.